Zero

Pertelevisian Di Indonesia

Posted on: November 22, 2008

Pertelevisian Orde Baru & Sesudah Soeharto Lengser

Pertelevisian Orde Baru
Orde baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Ketika masa pemerintahannya, siaran pertelevisian masih terlalu dikekang oleh pemerintahan yaitu tidak boleh menyiarkan hal-hal yang berhubungan dengan kejahatan yang pernah dilakukan Soeharto.
Umumnya, selama masa pemerintahan Orde Baru televisi tidak lebih dari produk bentukan orde baru itu sendiri. Televisi berkembang sesuai kebutuhan pemerintah, bukan pemirsanya.
Contohnya saja televisi manapun tidak boleh menyairkan hal-hal tentang G30S PKI yang ada kaitannya dengan Soeharto. Hal ini pun lama mengalami kemandekan dalam hal kebebasan dan inovasi penyiarannya.

Pertelevisian Sesudah Soeharto Lengser
Kehadiran televisi swasta cukup signifikan menggeser posisi TVRI, walau kepemilikannya masih di seputar kalangan dalam rezim orde baru. Pasca Reformasi, regulasi penyiaran amat longgar. Perluasan dan diversifikasi bisnis media di Indonesia melesat dengan cepat.
Tahun 1998 isi media dan khalayak televisi mengalami perkembangan dan perubahan terutama setelah munculnya stasiun-stasiun televisi swasta yang membuat progaram siaran mereka menjadi lebih menarik bila dibandingkan dengan TVRI.
Tercatat Indonesia memiliki stasiun televisi dan radio terbesar kedua setelah Cina. Siaran yang diadakan oleh stasiun swasta harus mengutamakan produksi dalam negeri. Pada masa ini tayangan-tayangan seperti G30S PKI sudah tidak ditutup-tutupi lagi. Pemerintah memberi kebebasan pada stasiun televisi untuk adanya siaran-siaran film Cina.

Perbedaan Siaran TV Masa Orde Baru dan Saat Soeharto Lengser
Unsur:
– Sebelum 1998: Mudah, membenarkan pernyataan pemerinah dan mengabaikan sumber lain.
– Sesudah 1998: Skeptis.

Teknik Liputan:
– Sebelum 1998: Atas ke bawah, Cek – Ricek.
– Sesudah 1998: Bwah ke atas, Verifikasi.

Isi Liputan:
– Sebelum 1998: Verbalisme, Monopli hak dan Interpretasi.
– Sesudah 1998: Penjaga publik.

Posisi Pers:
– Sebelum 1998: Komitmen pelayanan informasi kepada publik.
– Sesudah 1998: Penjaga publik.

Posisi Khalayak:
– Sebelum 1998: Penyerap selektif.
– Sesudah 1998: Aktif dalam proses, refleksi secara keseluruhan.

3 Responses to "Pertelevisian Di Indonesia"

pertelevisian indo dah makin maju ajah nih………

perkembangannya signifikan dan baik buat bangsa…
cuma masih banyak tayangan-tayangan yang tidak penting…
seperti infotainment….hehehe

soo ayo bangkit pertelevisian indonesia^^

ya berharap deh TV indonesia makin maju…

pertelivisian terlalu banyak yang decekal dan disensor..
sungguh2 deh..kapan bisa bangkit kalo di kurung mulu???
so…harus lebih nekat lagi ne…and jangan semena-mena juga c, kalo tayangannya..hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: